Kesetaraan Gender dan Pemberdayaan Perempuan di Indonesia: Keinginan dan Keniscayaan Pendekatan Pragmatis (Studi Terhadap UKM Cirebon Home Made)
Artikel ini secara substantif berhasil mengaitkan isu makro kesetaraan gender di
Indonesia dengan praktik mikro pemberdayaan perempuan melalui studi kasus UKM Cirebon
Home Made. Kekuatan utama artikel terletak pada kemampuannya menunjukkan bahwa
pemberdayaan perempuan tidak hanya dapat dianalisis melalui indikator formal seperti
pendidikan, pekerjaan, dan politik, tetapi juga melalui praktik kewirausahaan berbasis
komunitas. Penulis secara konsisten menegaskan bahwa kesetaraan gender merupakan
prasyarat pembangunan berkelanjutan, sejalan dengan teori pembangunan manusia dan agenda
global seperti Tujuan Pembangunan Milenium.
Dari sisi metodologi, penggunaan pendekatan kualitatif deskriptif dengan observasi
lapangan dan wawancara mendalam dinilai relevan dengan tujuan penelitian. Studi kasus
Cirebon Home Made memberikan gambaran empiris yang cukup kuat mengenai bagaimana
kepemimpinan perempuan, pelatihan berkelanjutan, serta sistem kerja fleksibel mampu
meningkatkan kapasitas ekonomi perempuan, khususnya ibu rumah tangga. Analisis faktor-
faktor pemberdayaan seperti gaya kepemimpinan, pendidikan, otonomi kerja, role model, dan
komitmen manajemen disajikan secara sistematis dan terhubung dengan kerangka teori yang
digunakan.
Namun demikian, artikel ini memiliki beberapa keterbatasan. Fokus pada satu UKM
menyebabkan generalisasi temuan menjadi terbatas, sehingga kesimpulan yang ditarik lebih
bersifat kontekstual daripada representatif secara nasional. Selain itu, meskipun penulis
menekankan pentingnya pendekatan pragmatis, rekomendasi kebijakan yang ditawarkan masih
bersifat normatif dan belum dirinci ke dalam model kebijakan atau strategi implementasi yang
operasional. Aspek data kuantitatif juga relatif minim sehingga perbandingan dampak
pemberdayaan perempuan secara lebih terukur belum sepenuhnya tergali.
Dari perspektif teoretis, artikel ini secara implisit menggunakan pendekatan
pembangunan manusia dan teori pemberdayaan perempuan yang menekankan perluasan
kapabilitas (capability approach). Perempuan dipandang bukan sekadar sebagai penerima
manfaat pembangunan, melainkan sebagai aktor utama yang mampu mengelola sumber daya,
mengambil keputusan, dan menciptakan nilai ekonomi. Studi Cirebon Home Made
memperlihatkan bagaimana perluasan kapabilitas tersebut terjadi melalui transfer
keterampilan, pengalaman wirausaha, dan penguatan kepercayaan diri perempuan. Hal ini
memperkuat argumen bahwa pemberdayaan ekonomi berbasis UKM dapat menjadi pintu
masuk strategis dalam menantang struktur ketimpangan gender yang bersifat kultural dan
struktural.
Kontribusi penting lain dari artikel ini adalah keberhasilannya mengungkap paradoks
pemberdayaan perempuan di Indonesia. Di satu sisi, perempuan mampu menunjukkan
kemandirian ekonomi dan kepemimpinan yang efektif pada level mikro; di sisi lain, struktur
sosial dan kebijakan publik yang patriarkal masih membatasi skalabilitas dan keberlanjutan
keberhasilan tersebut. Temuan mengenai pencurian karya oleh karyawan serta minimnya
dukungan pemerintah terhadap UKM perempuan menegaskan bahwa pemberdayaan individual
tidak selalu diiringi oleh lingkungan institusional yang kondusif. Hal ini memperkuat kritik
terhadap pendekatan pembangunan yang terlalu menekankan inisiatif individual tanpa
diimbangi reformasi struktural.
Dari segi analisis kebijakan, artikel ini relevan sebagai bahan refleksi atas kegagalan
pendekatan kebijakan yang bersifat simbolik dan administratif. Penulis menilai bahwa
komitmen pemerintah terhadap kesetaraan gender cenderung berhenti pada level deklaratif,
belum sepenuhnya diterjemahkan ke dalam kebijakan operasional yang berdampak langsung
pada pelaku UKM perempuan. Kurangnya integrasi kebijakan lintas sektor, lemahnya
pengembangan kapasitas, serta absennya sistem monitoring dan evaluasi berbasis gender
menjadi faktor utama terhambatnya pencapaian kesetaraan gender secara substantif.
Meskipun demikian, artikel ini dapat ditingkatkan dengan memperkuat dialog antara
temuan empiris dan literatur internasional terbaru mengenai gender, kewirausahaan
perempuan, dan ekonomi kreatif. Selain itu, penajaman analisis komparatif misalnya dengan
membandingkan UKM yang dipimpin perempuan dan laki-laki akan memperkaya pemahaman
mengenai dimensi gender dalam pengelolaan usaha. Penyertaan model konseptual atau
kerangka analisis yang lebih eksplisit juga akan membantu pembaca memahami alur logika
antara teori, data, dan kesimpulan.
Secara keseluruhan, artikel ini tidak hanya berfungsi sebagai laporan penelitian, tetapi
juga sebagai kritik akademik terhadap praktik pembangunan gender di Indonesia. Temuan dan
argumennya menegaskan bahwa kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan bukan
semata persoalan niat, melainkan keniscayaan yang menuntut pendekatan pragmatis, berbasis
bukti, dan berorientasi pada perubahan struktural. Oleh karena itu, artikel ini layak dijadikan
rujukan utama dalam kajian gender, kebijakan publik, dan pemberdayaan ekonomi perempuan,
khususnya dalam konteks negara berkembang seperti Indonesia.
(Muchammad Taufiqurrohman – 25207021008)