Dari Desa ke Kota untuk Memperbaiki Ekonomi
Riyan Mastura,Magister Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora, UIN Sunan Kalijaga
Fenomena urbanisasi di Indonesia mengalami peningkatan yang cukup besar sejak era Orde Baru. Pada masa tersebut, perpindahan penduduk dari desa ke kota tidak terjadi begitu saja, melainkan didorong oleh proses industrialisasi perkotaan, ketimpangan pembangunan antara desa dan kota, serta sentralisasi ekonomi nasional yang menjadikan kota sebagai pusat pekerjaan dan mobilitas sosial. Akibatnya, banyak masyarakat memilih berpindah ke kota dengan harapan memperoleh kehidupan yang lebih baik.
Pada momen mudik lebaran 2026, angka arus balik kembali diprediksi lebih besar dari pada arus mudik lebaran. Deputi Bidang Pengendalian Penduduk Kementrian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN, Bonivasius Prasetya Ichtiarto mengatakan fenomena arus balik yang semakin ramai dari tahun ke tahun telah menjadi salah satu aspek penting dalam dinamika migrasi penduduk Indonesia. Masyarakat tidak hanya kembali ke kota setelah berlibur di desa, tetapi juga membawa serta saudara, teman, bahkan keluarga besarnya untuk mencari peluang pekerjaan dan kehidupan yang lebih baik di kawasan aglomerasi perkotaan”. Ujar Bonivasius dalam keterangan resminya, Jumat, 27 Maret 2026 (Juli Agustina, 2026).
Daerah Istimewa Yogyakarta termasuk kota yang menjadi tujuan utama masyarakat desa, yang perpindahan itu disebut urbanisasi. Kemudian apa yang menjadi daya tarik kota Jogja, Yogyakarta memiliki kekhasan yang tidak dimiliki kota lain seperti, kebudayaan, pendidikan, dan pariwisata. Tingkat urbanisasi Daerah Istimewa Yogyakarta terus meningkat. Pada tahun 2026, proporsi penduduk yang tinggal di kawasan perkotaan diproyeksikan mencapai 73,28 persen, menunjukkan bahwa DIY merupakan salah satu wilayah dengan karakter masyarakat paling urban di Indonesia. Dari sekian kabupaten kota yang ada, Kabupaten Sleman dan Kabupaten Bantul menjadi daerah terpadat dampak dari urbanisasi tersebut (Badan Pusat Statistik, 2026).
Berdasarkan karakter ekonomi DIY, anak muda yang dibarengi ambisi untuk menjajaki kota Yogyakarta. Migrasi anak muda ini cenderung tidak hanya berorientasi upah, tetapi juga peluang pendidikan, jaringan sosial, dan kerja fleksibel. Jika lebih spesifik anak muda bekerja pada sektor formal dan informal. Pada sektor informal didominasi oleh anak muda yang sedang melaksanakan studi, seperti yang kuliah di sela-sela waktu belajarnya dimanfaatkan untuk bekerja freelance untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kemudian pada sektor formal banyak dari mereka yang setelah lulus sekolah memilih untuk bekerja, disamping yang melatar belakangi kondisi ekonomi yang kurang mencukupi. Mereka memilih bekerja di tempat yang tidak terlalu membutuhkan syarat tertentu dan gaji yang lumayan untuk perbaikan ekonomi seperti di hotel, restoran, kafe, karyawan toko, dan lainnya. Jadi Jogja menjadi tujuan urbanisasi karena dianggap memberi peluang naik kelas sosial dengan biaya masuk lebih rendah dibanding kota metropolitan besar.
Di sisi lain, desa yang menjadi tanah kelahirannya harus ditinggalkan demi memperbaiki ekonominya. Pada saat bersamaan desa menghadapi berbagai ketimpangan, salah satunya menyusutnya lahan pertanian. Sektor pertanian kehilangan tenaga kerja produktif, sementara lahan pertanian semakin berkurang akibat pembangunan permukiman maupun infrastruktur. Padahal, pertanian memiliki posisi yang sangat fundamental karena berkaitan langsung dengan kebutuhan pangan masyarakat. Oleh sebab itu, pertanian tidak dapat dipandang sebagai sektor yang tertinggal (Kementerian Agraria dan Tata Ruang/BPN, 2015).
Desa selama ini identik dengan pertanian subsisten, yaitu kegiatan bertani untuk memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari. Pola pertanian ini umumnya dilakukan dengan meminimalkan risiko kegagalan, berhemat, dan disertai pekerjaan sampingan untuk menambah penghasilan. Selain itu, terdapat pula pertanian komersial, yaitu pertanian yang tidak hanya ditujukan untuk konsumsi keluarga, tetapi juga untuk dijual ke pasar. Pada tahap ini, petani mulai bertransformasi menuju kegiatan ekonomi yang lebih menguntungkan. Berbagai inovasi juga berkembang, salah satunya sistem tumpang sari, yaitu metode menanam dua jenis tanaman atau lebih pada lahan dan waktu yang sama untuk meningkatkan produktivitas dan menjaga keseimbangan ekosistem pertanian (Karen Mingst, 2026).
Menilik kondisi tersebut, sebagian masyarakat yang melakukan urbanisasi cenderung enggan memaksimalkan potensi ekonomi di desa dan lebih tertarik pada peluang baru di kota termasuk generasi muda. Kota dipersepsikan sebagai ruang yang menyediakan lapangan kerja lebih luas, pendapatan lebih tinggi, serta akses pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur yang lebih baik. Akibatnya, desa kerap dipandang sebagai wilayah dengan kesempatan terbatas, sehingga tenaga kerja produktif lebih banyak berpindah ke perkotaan.
Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat menimbulkan dampak serius bagi desa. Berkurangnya sumber daya manusia produktif dapat melemahkan sektor pertanian, usaha lokal, dan pembangunan pedesaan secara berkelanjutan. Desa berisiko kehilangan generasi muda yang seharusnya dapat menjadi penggerak pembangunan di daerah asalnya.
Bagi anak muda, urbanisasi sering kali menjadi pilihan yang penuh pengorbanan. Mereka rela meninggalkan keluarga demi harapan memperbaiki taraf hidup. Di kota, mereka mengisi berbagai ruang kehidupan melalui pekerjaan, pendidikan, maupun pencarian pengalaman baru. Kota dianggap memberi peluang lebih besar untuk berkembang, baik secara ekonomi maupun kemampuan diri. Namun, di balik harapan tersebut terdapat konsekuensi berupa jauhnya hubungan dengan keluarga, tekanan hidup di perantauan, serta persaingan yang semakin ketat (Organisasi Perburuhan Internasional, n.d.).
Yogyakarta menjadi pilihan karena meyakini tersedia banyak lowongan pekerjaan, ditambah informasi dari teman atau kerabat yang lebih dahulu merantau. Namun, banyaknya lowongan kerja berjalan seiring dengan tingginya jumlah pesaing. Tidak sedikit yang akhirnya menerima pekerjaan yang tidak sesuai kemampuan atau dengan upah rendah. Pekerjaan menjadi sangat penting di kota karena hampir seluruh kebutuhan hidup harus dibeli, mulai dari makanan, tempat tinggal, hingga transportasi (Bintang Ridzky Alfathi, 2025).
Berbeda dengan kehidupannya di desa, mereka masih mudah mengakses lahan, kebun, atau sawah yang dapat dimanfaatkan untuk memenuhi sebagian kebutuhan sehari-hari tanpa harus selalu mengeluarkan uang. Hal ini menunjukkan bahwa kehidupan desa memiliki kelebihan tersendiri yang sering kali kurang dihargai.
Keadaan tersebut menegaskan bahwa kehidupan kota tidak selalu seindah bayangan banyak orang. Kesempatan kerja memang lebih banyak, tetapi biaya hidup yang tinggi sering membuat pendapatan terasa tidak cukup. Sebagian anak muda harus bekerja dengan jam panjang hanya untuk memenuhi kebutuhan dasar. Sementara itu, desa yang sering dianggap tertinggal justru memiliki keunggulan berupa ketersediaan sumber daya alam dan hubungan sosial yang lebih dekat antarwarga (Admin Melinda Hospital, n.d.).
Karena itu, urbanisasi seharusnya tidak dipandang sebagai satu-satunya jalan menuju kehidupan yang lebih baik. Urbanisasi perlu menjadi bahan refleksi bahwa potensi desa juga dapat dikembangkan agar generasi muda memiliki pilihan untuk tetap membangun daerah asalnya.
Maka dari itu, pemerintah tidak hanya perlu membangun kota, tetapi juga memperkuat desa dengan memaksimalkan potensi yang ada. Pembangunan harus diarahkan pada pemerataan akses pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan infrastruktur antara desa dan kota. Dengan demikian, masyarakat tidak harus selalu pergi ke kota untuk meningkatkan taraf hidup, sekaligus menjadi solusi atas semakin padat dan kompleksnya kehidupan perkotaan.
Referensi
Admin Melinda Hospital. (n.d.). Biaya Hidup Tinggi di Perkotaan: Dari Hunian hingga Kebutuhan Pokok. Melinda Hospital.
Badan Pusat Statistik. (2026, March 4). [Hak Cipta 2023]. Penduduk, Laju Pertumbuhan Penduduk, Distribusi Persentase Penduduk, Kepadatan Penduduk, Rasio Jenis Kelamin Penduduk Menurut Kabupaten/Kota Di Provinsi DI Yogyakarta, 2026. https://yogyakarta.bps.go.id/id/statistics-table/3/V1ZSbFRUY3lTbFpEYTNsVWNGcDZjek53YkhsNFFUMDkjMw%3D%3D/penduduk--laju-pertumbuhan-penduduk--distribusi-persentase-penduduk--kepadatan-penduduk--rasio-jenis-kelamin-penduduk-menurut-kabupaten-kota-di-provinsi-di-yogyakarta--2018.html?utm_source=chatgpt.com
Bintang Ridzky Alfathi. (2025, April 16). Mayoritas Publik Indonesia Pilih Pindah ke Kota Besar Untuk Cari Kerja. Goodstats. https://data.goodstats.id/statistic/mayoritas-publik-indonesia-pilih-pindah-ke-kota-besar-untuk-cari-kerja-gvXPR
International Labour Organization (Organisasi Perburuhan Internasional). (n.d.). [Online post]. Badan Khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa (Sejak 1946).
Juli Agustina. (2026, April 18). Lapan6online.com [Hak Cipta 2015]. Urbanisasi Masih Menjadi Tradisi. https://lapan6online.com/urbanisasi-masih-menjadi-tradisi/
Karen Mingst. (2026, April 19). Food and Agriculture Organization. Britannica. https://www.britannica.com/technology/sustainable-agriculture
Kementerian Agraria dan Tata Ruang/BPN. (2015). [Online post].