Ketimpangan Kebahagiaan Orang Kota dengan Orang Desa

Samsuddin Alamsyah, Magister Sosiologi, FISHUM, UIN Sunan Kalijaga

Kebahagiaan merupakan hal yang diinginkan semua orang. Lantas apa indikator dari kebahagiaan itu? D. Sachs, John F. Helliwell pada tahun 2018 membuat laporan atas penelitian tentang kebahagiaan yang ditentukan oleh beberapa variable, diantaranya: pendapatan suatu daerah, kesehatan, pendidikan, lapangan kerja, kota dan kebahagiaan pribadi (Gabriela Delsignore dkk, 2021). Berdasarkan variabel tersebut nampaknya memperoleh kebahagiaan berdasarkan klasifikasi geografis akan lebih dapat dijangkau oleh orang yang tinggal di daerah perkotaan karena variabel tersebut menunjukkan bahwa jika pendapatan desa lebih rendah dibandingkan dengan kota, kemudian untuk mengakses fasilitas pendidikan, lapangan kerja dan kesehatan yang memadai orang desa harus ke kota maka ada ketimpangan kebahagiaan antara orang kota dengan desa. Terlebih lagi dalam konteks Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia memiliki tiga waktu yang berbeda menjadi tantangan untuk melakukan pemerataan pembangunan.

Adanya kota dan desa menunjukkan bahwa manusia tak hanya hidup sebagai individu semata tanpa berinteraksi dengan orang lain, manusia tidak bisa hidup tanpa peran manusia lainnya sehingga manusia juga disebut sebagai makhuk sosial (Dedi Hantono & Diananta Pramitasari, 2018). Makhluk sosial yang saling berinteraksi tersebut akan melakukan perbandingan sosial dalam artian memberi nilai terhadap dirinya dan orang lain serta membandingkan dirinya dengan orang lain (Nurfitriany Fakhri, 2017). Di zaman media sosial saat ini perbandingan sosial tak hanya dilakukan saat individu berinteraksi langsung dengan sekitarnya, namun juga dengan aktif di media sosial. Hal ini membuat orang desa membandingkan kehidupannya dengan orang kota tanpa pergi ke kota, hanya dengan melalui media sosial akan nampak perbandingan yang mencolok. Sehingga manusia sebagai makhluk sosial yang sadar akan persoalan ini akan berupaya membuat keadilan pembangunan di kota dengan desa. Keadilan sosial ini sebagai upaya menopang kesejahteraan diseluruh lapisan masyarakat melalui pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah (Lukman Haris dkk, 2025).

Variabel kebahagiaan yang dikemukakan oleh Jeffrey D. Sachs, John F. Helliwell dikaitkan dengan konteks geografi Indonesia akan nampak persoalan kompleks dari segi pendapatan, kesehatan dan pendidikan. Dari segi pendapatan, desa bergantung pada sektor pertanian dengan penghasilan yang tidak stabil, sementara di kota menawarkan pekerjaan yang gajinya lebih tinggi walaupun biaya hidup lebih mahal (Novida Yenny dkk, 2025). Kemudian tersedianya fasilitas kesehatan di Kota jauh lebih bagus dibanding Kabupaten apalagi dibanding dengan Desa pada indikator kuantitas rumah sakit (pemerintah maupun swasta) (Cucu Herawati dan Syaeful Bakhri, 2019). Lebih ironis lagi pendidikan sebagai wadah mencerdaskan bangsa, masyarakat desa yang miskin kesulitan bersekolah, hal ini semakin parah karena infrastruktur yang tidak lengkap di desa seperti jauhnya aksebilitas ditingkat SMA (Azwar Yusran Anas dkk, 2020). Walaupun hal ini menunjukkan ketimpangan desa dan kota, upaya menjadikan desa memiliki pembangunan yang memadai harus terus dimaksimalkan dalam mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Mengatasi persolan pendapatan daerah, layanan kesehatan dan akses pendidikan tentunya memerlukan strategi atau kebijakan yang tepat. Dari segi pendapatan, desa sebagai basis pertanian jangan hanya bersifat subsisten yang hanya memenuhi kebutuhan hidup. Pertanian di desa mesti dimaksimalkan dengan menggabungkan pertanian subsisten dengan pertanian komersil, dimana tidak berhenti pada keamanan pangan semata tapi juga mencari keuntungan sebanyak-banyaknya dari pertanian. Kemudian pada sektor kesehatan sebagaimana dilansir oleh kemkes.go.id bahwa perkembangan terkini Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) atau Quick Win Presiden Prabowo pada pembangunan rumah sakit lengkap berkualitas di 66 kabupaten/kota, khususnya diwilayah terpencil, perbatasan, dan kepulauan. Pemerintah juga sedang melakukan program sekolah rakyat, di website Kementrian Sekretariat Negara melaporkan bahwa Presiden Prabowo menyatakan bahwa Sekolah Rakyat dirancang sebagai instrumen strategis untuk memperluas akses pendidikan bagi masyarakat miskin dan miskin ekstrem. Kebijakan-kebijkan ini merupakan upaya dalam menyediakan akses yang layak pada variabel kebahagiaan yang dikemukakan oleh D. Sachs, John F. Helliwell.

Berdasarkan uraian variabel yang menentukan kebahagiaan menunjukkan bahwasanya strategi akselerasi pembangunan pedesaan sangat diperlukan sebagai upaya meningkatkan pemerataan pembangunan di desa serta merealisasikan hasil-hasil pembangunan melalui arah kebijakan pembangunan sektoral dan pemberdayaan masyarakat di pedesaan (Purwatiningsih, 2004). Jika pembangunan desa semakin maju seperti fasilitas kesehatan dan pendidikan serta akses lapangan pekerjaan yang menopang kesejahteraan masyarakat maka ketimpangan kebahagiaan antara orang desa dengan orang kota dapat diminimalisir.

Agama sebagai pedoman hidup banyak membahas mengenai keadilan yang harus direalisasikan dalam hidup manusia salah satunya terdapat dalam Surah An-Nahl yang artinya: “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (Qs. an-Nahl: 90). Ayat tersebut menginstruksikan untuk berbuat adil, sebagai negara yang mayoritas beragama Islam seyogyanga mengedepankan tuntunan ajaran Islam termasuk keadilan pembangunan di kota dan di desa. membina masyarakat untuk punya perasaan syukur atas hidupnya dan merasa puas dengan itu memang penting karena dengan begitu masyarakat akan terhindar dari stress atau depresi. Akan tetapi, upaya untuk memordenisasi pedesaan atau akselerasi pembangunan desa harus terus dimaksimalkan dalam mewujudkan keadilan dalam kehidupan manusia.

Terdapat ketimpangan kebahagiaan yang nyata antara masyarakat perkotaan dan perdesaan di Indonesia akibat tidak meratanya pembangunan struktural. Berdasarkan variabel kebahagiaan dari Jeffrey D. Sachs dan John F. Helliwell, akses terhadap pendapatan yang stabil, fasilitas kesehatan yang mumpuni, serta infrastruktur pendidikan yang lengkap masih jauh lebih mudah dijangkau oleh masyarakat kota dibandingkan masyarakat desa. Kesenjangan ini diperparah oleh kehadiran media sosial, yang memicu terjadinya perbandingan sosial (social comparison) dan membuat masyarakat desa semakin menyadari ketimpangan mencolok tersebut.

Meskipun pembentukan mentalitas individu seperti rasa syukur penting untuk mencegah stres , kebahagiaan yang berkeadilan tidak akan tercapai tanpa adanya intervensi struktural dari pemerintah. Oleh karena itu, strategi akselerasi pembangunan pedesaan serta kebijakan nyata seperti program rumah sakit berkualitas Quick Win dan perluasan akses melalui Sekolah Rakyat yang diusung Presiden Prabowo memberi dampak dalam mengatasi persolan tersebut. Pada akhirnya, perwujudan keadilan pembangunan ini bukan hanya sekadar pemenuhan target ekonomi, melainkan bentuk implementasi nilai teologis dan moral sebagaimana amanat Surah An-Nahl ayat 90 untuk menciptakan keadilan sosial dan meminimalisir jurang kebahagiaan antara desa dan kota di Indonesia.

Referensi

Purwatiningsih, Annisa. 2004. Partisipasi Politik Dalam Pembangunan Desa. Jurnal Ilmu Administrasi Publik. Vol. Iv, No. 2.

Hantono, Dedi, Diananta Pramitasari. 2018. Aspek Perilaku Manusia Sebagai Makhluk Individu dan Sosial Pada Ruang Terbuka Publik. National Academic Journal of Architecture. Volume 5, Nomor 2, hlm 85-97.

Fakhri, Nurfitriany. 2017. Konsep Dasar dan Implikasi Teori Perbandingan Sosial. Jurnal Psikologi Talenta. Volume 3 No. 1.

Lukman, Rais, Wahyuddin Halik, Agnes Taopan dkk. 2025. Keadilan Sosial dalam Pembangunan: Tinjauan Literatur terhadap Kebijakan Pembangunan dengan Adanya Efisiensi Anggaran Dari Pusat. Papua Journal of Sociology. Vol. 3. No. 1.

Delsignore, Gabriela, Alejandra Aguilar-Latorre, Bárbara Oliván-Blázquez. 2021. Measuring happiness in the social sciences: An overview. Journal of Sociology.

Yenny, Novida, Mulhady Putra, Amanda Anggriani dkk. 2025. Analisis Perbandingan Sosial Ekonomi Desa dan Kota dalam Pembangunan Wilayah. Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora. Volume 3, Nomor 2.

Herawati, Cucu, Syaeful Bakhri. 2019. Ketimpangan Pelayanan Kesehatan Dasar dan Ekonomi di Wilayah Perbatasan. Jurnal Kesehatan Masyarakat. Vol. 4, No. 1.

Yusran Anas, Azwar, Agus Wahyudi Riana, Nurliana Cipta Apsari. 2020. Desa dan Kota dalam Potret Pendidikan. Vol. 2, No. 3. Hal. 301-444.