Ketimpangan Desa-Kota Sebagai Akar Kerentanan Struktural Migrasi Tenaga Kerja Di Kamboja

Alvina Fatimatuzzahroh (Magister Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora,UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)

Kamboja merupakan salah satu negara berkembang di kawasan Asia Tenggara yang mengalami transformasi ekonomi cukup pesat dalam dua dekade terakhir. Pada tahun 2007 tingkat kemiskinan mencapai 47,8 persen, kemudian turun tajam menjadi 18,9 persen pada tahun 2012 (IOM, 2016). Meskipun pertumbuhan ekonomi di Kamboja mengalami peningkatan, pemerataan dalam distribusi pembangunan masih belum tercapai terutama di wilayah desa. Tentu saja hal tersebut mengakibatkan ketimpangan wilayah desa dan kota pada struktur pembangunan di Kamboja. Wilayah perkotaan seperti Phnom Penh berkembang pesat sebagai industri dan jasa, sementara sebagian besar wilayah pedesaan masih mengalami ketertinggalan dengan adanya keterbatasan pada akses pendidikan, infrastruktur, dan peluang ekonomi.

Ketimpangan wilayah antara desa dan kota merupakan isu fundamental dalam kajian sosiologi pedesaan dan urbanisasi yang tidak hanya membahas perbedaan tingkat pembangunan, tetapi juga struktur sosial yang tidak setara. Beberapa bentuk ketimpangan dapat terlihat diantaranya meliputi akses terhadap pendidikan, distribusi sumber daya ekonomi, layanan kesehatan, dan infrastruktur. Kamboja sebagai negara berkembang, ketimpangan di wilayah desa dan kota menjadi pendorong utama migrasi tenaga kerja baik internal maupun internasional. Menggunakan perspektif structural vulnerability fenomena tersebut dapat dianalisis sebagai kondisi kerentanan akibat ketidakadilan struktur sosial. Pada perspektif tersebut menunjukkan posisi sosial-ekonomi tertentu menciptakan ketergantungan yang berujung pada eksploitasi (Quesada et al., 2011).

Kondisi Kamboja semakin tertekan dengan iklimnya yang berisiko. Kamboja diperkirakan mengalami panas ekstrem yang berdampak pada produktivitas dan kesehatan (ADB, 2021). Kamboja juga merupakan negara keempat yang paling berpotensi banjir di kawasan sungai Mekong dan cekungan Tonle Sap yakni 80% tempat tinggal penduduk Kamboja (World Bank, 2023). Adanya cuaca ekstrem tersebut paling berdampak pada masyarakat pedesaan dengan profesi di sektor pertanian dan perikanan yang rawan terhadap kekeringan dan banjir. Hal ini menjadi salah satu kerentanan yang terjadi di masyarakat desa selain ketimpangan wilayah.

Kerentanan masyarakat desa terlihat dari modal ekonomi dan sosial yang terbatas. Kondisi ini menempatkan masyarakat desa pada posisi rentan ketika memasuki pasar kerja baik di kota maupun luar negeri. Kerentanan yang dimiliki berakibat rawan terhadap eksploitasi seperti kondisi kerja yang buruk, upah yang rendah, atau bahkan perdagangan manusia. Kamboja merupakan negara rentan karena, angka kemiskinan yang tinggi, lemahnya mekanisme penegakan hukum, dan mobilitas lintas batas menciptakan jalan bagi jaringan perdagangan manusia (Rasnake, 2025).

Rawan terhadap eksploitasi dapat dipahami sebagai sistem sosial yang secara tidak langsung menyebabkan penderitaan melalui distribusi sumber daya yang tidak adil. Selain itu, kerentanan di kota bisa terjadi akibat urbanisasi yang tidak dikelola dengan baik. Tidak berarti berpindahnya masyarakat desa ke kota teratasi karena pembangunan di wilayah kota yang lebih baik. Justru hal tersebut bisa memicu kerentanan berlanjut di kota, seperti kemiskinan dan berkembangnya sektor informal. Sektor informal menjadi penampung utama bagi tenaga kerja migran yang terbatas atau tidak memiliki keterampilan pada pekerjaan formal (Dina Meilinda & Julia, 2025). Hal ini mengindikasikan migrasi tidak menjadi jawaban atas terhapusnya kerentanan, melainkan seringkali hanya memindahkan pada ruang sosial yang berbeda.

Penduduk Kamboja sebagian besar tinggal di wilayah pedesaan dan bergantung pada sektor pertanian subsisten (ADB, 2014). Kendala yang dihadapi pada sektor pertanian tersebut meliputi produktivitas rendah, ketergantungan pada kondisi alam, serta terbatasnya akses teknologi dan pasar. Akibatnya, pendapatan masyarakat di wilayah pedesaan relatif rendah dan tidak stabil. Bagi masyarakat desa, kondisi ini menciptakan tekanan ekonomi khususnya bagi generasi muda untuk mencari alternatif penghidupan di luar sektor pertanian.

Proses pembangunan yang tidak merata mengakibatkan terjadinya ketimpangan antara desa dan kota. Phnom Penh sebagai pusat ekonomi perkotaan mengalami pertumbuhan pesat dalam sektor industri garmen, jasa, dan konstruksi. Kota ini menjadi daya tarik utama bagi tenaga kerja dari pedesaan. Jika pada teori modernisasi berpusatnya pembangunan di kota dianggap sebagai tahap awal transformasi ekonomi, kenyataannya praktik tersebut justru menciptakan dualisme ekonomi antara kota dan desa atau sektor modern dan tradisional. Industri garmen misalnya, menjadi industri terbesar penyerap tenaga kerja asal desa di Kamboja. Secara umum migrasi yang terjadi, merupakan hasil dari adanya fenomena ketimpangan yang mengakibatkan minimnya peluang ekonomi di desa (Wilonoyudho, 2017).

Terjadinya ketimpangan desa dan kota tidak hanya mendorong migrasi internal tetapi juga migrasi internasional. Migrasi dilihat sebagai strategi dalam mengatasi kurangnya lapangan kerja domestik, mengurangi kemiskinan, serta meningkatkan pembangunan ekonomi (Alffram et al., 2023). Seringkali individu tidak memiliki alternatif lain yang layak di negara asalnya, akhirnya migrasi menjadi jawaban dalam kondisi tersebut (Quesada et al., 2011). Menurut laporan IOM (international organization for migration), rata-rata pekerja migran Kamboja berasal dari desa dengan kualitas pendidikan yang rendah dan akses informasi yang terbatas. Pada kondisi tersebut menyebabkan mudahnya peluang eksploitasi terjadi hingga perdagangan manusia, kerja paksa, dan praktik perekrutan ilegal.

Kondisi yang dialami para pekerja migran Kamboja dapat dipahami sebagai bentuk kerentanan struktural. Ketimpangan di wilayah desa dan kota menyebabkan keterbatasan akses terhadap sumber daya yang penting dalam meningkatkan mobilitas sosial seperti, pendidikan, jaringan sosial, dan informasi. Relasi kekuasaan yang tidak seimbang juga memperkuat posisi marginal masyarakat pedesaan Kamboja. Desa sebagai penyedia tenaga kerja dengan posisi tawar rendah bagi sektor industri di kota maupun luar negeri, sementara nilai tambah ekonomi lebih banyak berfokus pada perkotaan. Oleh karena itu migrasi tidak mampu menghapus ketimpangan, tetapi justru menghasilkan skala yang lebih luas.

Sebagai kesimpulan, tenaga kerja migran masih berada pada posisi rentan baik migrasi internal maupun internasional. Sehingga ketimpangan yang terjadi antara desa dan kota menyebabkan kerentanan struktural yang mendorong adanya migrasi internal hingga migrasi ke luar negeri bagi masyarakat desa di Kamboja. Dengan demikian, migrasi pekerja tidak dapat dipahami sebagai pilihan rasional melainkan respon dari tekanan struktural yang berasal dari ketimpangan pembangunan wilayah.

Daftar Pustaka

ADB. (2014). CAMBODIA COUNTRY POVERTY ANALYSIS 2014. Asian Development Bank. https://www.ticambodia.org/library/wp-content/files_mf/1436929477cambodiacountrypovertyanalysis2014.pdf

ADB. (2021). Climate Risk Country Profile: Cambodia. https://www.adb.org/publications/climate-risk-country-profile-cambodia

Alffram, H., Denney, L., & Domingo, P. (2023). Rethinking labour recruitment to reduce exploitation and trafficking of migrants.

Dina Meilinda, & Julia, A. (2025). Faktor-Faktor yang Menentukan Ketimpangan Pendapatan di 5 Kota Besar Indonesia. Bandung Conference Series: Economics Studies, 5(2), 195–202. https://doi.org/10.29313/bcses.v5i2.20064

IOM. (2016). ASSESSING VULNERABILITIES AND RESPONSES TO ENVIRONMENTAL CHANGES IN CAMBODIA. International Organization for Migration, Phnom Penh. https://environmentalmigration.iom.int/sites/g/files/tmzbdl1411/files/documents/MECC_Cambodia%20report.pdf

Quesada, J., Hart, L. K., & Bourgois, P. (2011). Structural Vulnerability and Health: Latino Migrant Laborers in the United States. Medical Anthropology, 30(4), 339–362. https://doi.org/10.1080/01459740.2011.576725

Rasnake, K. (2025). SEX & LABOR TRAFFICKING IN CAMBODIA.

Wilonoyudho, S. (2017). Urbanization and Regional Imbalances in Indonesia. Indonesian Journal of Geography, 49(2), 125. https://doi.org/10.22146/ijg.13039

World Bank. (2023). Cambodia: Country Climate and Development Report. https://openknowledge.worldbank.org/entities/publication/83b19efc-96d1-4be4-8240-28e0e7f13c9b