Perkembangan Kota Surabaya sebagai Tujuan Urbanisasi

Nelis Sa'adah,Magister Sosiologi, FISHUM, UIN Sunan Kalijaga

Kota merupakan pusat peradaban manusia yang bersifat dinamis dan terus mengalami tranformasi dari waktu ke waktu. Perkembangan kota bukan hanya sekedar mengenai pertambahan jumlah penduduk. gedung-gedung pencakar langit ataupun perluasan infrastruktur. Melainkan perkembangan kota sebuah proses yang kompleks yang melibatkan intraksi antara pertumbuhan penduduk, aktivittas perekonomian,dan perubahan sosial budaya. Sejak revolusi indutri hingga era digital saat ini, sebagai wujud eksistensi kota sudah bergeser dari pusat produksi barang menjadi pusat inovasi, informasi, dan pendidikan.

Perkembangan dan pertumbuhan kota dapat ditinjau dari pengaruh pertumbuhan penduduk yang tidak lepas dari dari proses urbanisasi. Menurut Herlianto (1986) urbanisasi dilihat sebagai gejala geografis dari konsep keruagan (spasial) dan ekologis. Ia berpikir bahwa ada gerakan atau perpindahan penduduk di dalam atau keluar dari suatu wilayah tertentu. Salah satu komponen ekosistem yang rusak atai tidak berfungsi dengan baik akan menyebabkan perpindahan atau gerakan penduduk. Sehingga ha ini meyebabakan ketimpangan dalam ekosistem setempat dan penduudk yang pindah dari tempat asalnya ke tempat baru atau perkotaan.(Jamaludin 2017)

Sedangkan menurut Catanese (1998) Perkembangan kota di pengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor fisik dan non fisik. Faktor fisik akan mempengaruhi perkembangan suatu kota yaitu: Faktor lokasi, kota dapat mempengaruhi kemampuan perkembangan kota untuk melakukan aktivitas dan interaksi; Faktor geografis, kondisi geografis dapat mempeengaruhi pertumbuhan kota karena wilayah yang datar daripada kota-kota yang berada di wilayah pegunungan. Adapun faktor non Fisik yang berpengaruhi dalam perkembangan suatu kota yaitu: Faktor perkembangan penduduk, perkembangan penduduk dapat dilihat dari dua hal, pertama secara internal yang berkaitan dengan kelahiran maupun kematian, kedua secara eksternal yang berkaitan dengan urbanisasi. Faktor aktivitas kota, kegiatan yang dilakukan di dalam kota tersebut seperti kegiatan perekonimian yang meliputi laha, tenaga kerja, modal dan lain sebagianya.(Jamaludin 2017)

Sekarang ini fenomena urbanisasi banyak terjadi di pusat kota-kota besar, contohnya di kota Surabaya, sebagai ibukota Jawa Timur. Surabaya menjadi tujuan utama bagi masyarakat khususnya masyarakat Jawa Timur untuk mencari sumber ekonomi maupun pendidikan. Berdasarkan informasi pada situs Satu Data yang di kelola oleh pemerintah Surabaya, terhitung jumlah penduduk di Surabaya pada tahun 2024 dengan total 3.009.289 jiwa yang menetap di Surabaya dengan keseluruhan penduduk yang melakukan migrasi ke Surabaya. Dengan jumlah penduduk yang sangat besar ini Surabaya menjadi kota yang menyumbang kepadatan penduduk di Indonesia. Selain itu di situs Satu Data tercatat pada tahun 2023 terdapat 12.395 pencari lowongan pekerjaan di Surabaya, dengan jumlah lowongan kerja yang tersedia di pemerintahan Surabaya sebanyak 7,191 posisi lowongan pekerjaan. Dengan data ini kita dapat melihat bahwa banyak masyarakat yang melakukan migrasi ke Surabaya untuk mendapatkan pekerjaan dengan layak dan posisi lowongan yang besar tetapi memungkinkan sebagian masyarakat tidak mendapatkan pekerjaan dengan jumlah pelamar yang melebihi loker yang tersedia. (https://satudata.surabaya.go.id/)

Terjadinya urbanisasi didorong oleh dua faktor yaitu faktor penarik, dimana kondisi yang mendorong masyarakat tertarik untuk berpindah ke kota kerena adanya daya tarik yang diinginkan atau ditawarkan. Adapun faktor yang menarik terjadinya urbanisasi ialah fasilitas yang mewadai, standar hidup yang tinggi, prndidikan yang lebih maju, kesempatan lebih terbuka, dan beberapa faktor lainnya. Sementara faktor pendorong terjadinya urbanisasi yaitu kemiskinan, disebabkan fasilitas yang tersedia sangat minim, rendanya standar hidup, pendidikan dimana fasilitas untuk menunjang perekmbangan diri tidak mewadai.(Salim 2023)

Sebagian besar urbanisasi yang menuju Surabaya disebabkan oleh bebrapa faktor, termasuk tingginya tingkat pendidikan dan banyaknya peluang usaha dan kerja sehingga laju urbanisasi terjadi begitu cepat. Lembaga pendidikan seperti perguruan tinggi maupun pelatihan yang sangat mudah dijangkau. Adanya peluang bisinis atau kerja di Surabaya karena banyaknya penduduk memungkinkan setiap orang ingin memulai usaha merek sendiri dengan memenuhi kebutuhan masyarakat sekitar. Banyaknya kantor dan pabrik yang terpusat di Surabaya dapat membuka peluang bagi masyarakat untuk menigkatkan kualitas hidup mereka.

Sementara itu Keban menyatakan bahwa urbanisasi yang tidak terkendali dan heirarki kota akan menimbulkan dampak negatif, seperti munculnya kemiskinan perkotaan, ketimpangan pendapatan perkapita, pengangguran, kriminalitas, polusi udara, dan kawasan kumuh(Alfadia Fitri Aini 2022). Dikuti dari situs Kabar Baik bahwa Data kemiskinan BPS Kota Surabaya per maret 2025 menujukkan sekitar 3,56 persen atau lebih dari 100 ribu jiwa berada di bawah garis kemiskinan. Secara statitikik angka ini masih tergolong rendah untuk kota besar seperti Surabaya. Sedangkan garis kemiskinan berada di kisaran Rp 775 ribu perkapita per bulan menunjukan batas antara miskin dan tidak miskin di kota besar sanagt tipis. (https://kabarbaik.co)

Selain memiliki efek negatif terhadap pertumbuhah kota Surabaya, urbanisasi memiliki dapak yang positif. Namun, pemerintah harus memberikan perhatian khsusus untuk mengatasi masalah urbanisasi karena jika urbanisasi tidak dikombinasikan dengan pertumbuhan ekonomi, infrastruktur yang mewadai, dan lapangan kerja yang luas, urbanisasi akan menjadi maslaah yang sangat besar bagi Kota Surabaya.(Alfadia Fitri Aini 2022)

Referensi

Alfadia Fitri Aini. 2022. “Analisis Dampak Urbanisasi Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Kota Surabaya” 3 (2): 60–67.

Jamaludin, Adon Nasrullah. 2017. Sosiologi Perkotaan. Ke 2 mei 2.

Salim, Hisyamuddin. 2023. “Fenomena Urbanisasi Kota Surabaya ( Studi Pertambahan Penduduk Berusia Muda ),” 938–46.

https://satudata.surabaya.go.id/files/sektoral/2024/3_Bab_III_Penduduk_dan_Tenaga_Kerja.pdf

https://kabarbaik.co/surabaya-733-tahun-kota-hebat-tapi-belum-semua-warga-ikut-naik-kelas/