Menjamurnya Komunitas Perbukuan di Kota Yogyakarta
Samsuddin Alamsyah, Magister Sosiologi, FISHUM, UIN Sunan Kalijaga
Emile Durkheim mengklasifikasi solidaritas masyarakat menjadi solidaritas mekanik yang dilekatkan pada masyarakat primitif atau desa karena solidaritas yang didasarkan keterlibatan kolektif dalam melakukan banyak hal, sedangkan solidaritas organik yang disematkan pada masyarakat kota karena dipersatukan oleh perbedaan-perbedaan dan melaksanakan tugas yang relatif sempit (George Ritzer, 2012).
Salah satu bentuk konkret dari solidaritas organik masyarakat perkotaan ialah masifnya komunitas sebagai wadah dalam mengekspresikan minat yang sama. Kota Yogyakarta merupakan salah satu wilayah di Indonesia yang sangat menjamurnya beragam komunitas, mulai dari komunitas lari, komunitas penggemar sepak bola, hingga komunitas pecinta kucing. Menariknya, komunitas baca buku juga menjamur di Yogyakarta yang pada tingkat global menurut UNESCO hanya 0,001% masyarakat Indonesia yang memiliki minat baca. Artinya, dari 1,000 orang Indonesia, cuma 1 orang yang rajin membaca sebagaimana yang dilansir oleh Kementrian Komunikasi dan Digital. Penting untuk mengetahui bagaimana komunitas baca buku dihidupkan di Yogyakarta sehingga menjadi referensi bagi wilayah lain di Indonesia dalam menopang minat baca masyarakat Indonesia, harapannya pada tingkat global minat baca di Indonesia dapat dibanggakan.
Yogyakarta sebagai kota pendidikan sudah dibangun sejak zaman nenek moyang yang kemudian dipertahankan oleh lintas generasi dan diakui oleh publik secara holistik (Sugianto, 2004). Yogyakarta yang dikenal sebagai kota pendidikan terejawantahkan dalam hidupnya komunitas buku sebagai basis memupuk solidaritas masyarakat yang aktif membaca buku dan ingin membagikan hasil bacaannya. Tribun Jogja (2026) menyebutkan 5 rekomendasi komunitas baca buku di kota Yogyakarta mulai dari Yogyakarta Book Party, Happy Reading Book Club, Baca Bareng Jogja, Klub Buku Yogyakarta, dan Radio Buku. Komunitas baca buku tersebut memiliki agenda silent reading yang dilanjutkan dengan bercerita mengenai isi buku, bertukar buku, hingga kolaborasi dengan kafe. Komunitas baca buku tersebut merupakan salah satu bentuk konkret masifnya komunitas baca buku di Yogyakarta.
Masyarakat kota yang aktif dalam komunitas baca buku menunjukkan bahwa konsep "The Third Place" (Ruang Ketiga) dari Ray Oldenburg, tempat di mana masyarakat urban melepas penat selain di rumah/kos (ruang pertama) dan tempat kerja/kampus (ruang kedua). komunitas buku yang terkadang berkolaborasi dengan kafe menjadi ruang ketiga yang menghidupkan kota. Selain itu, Evi Susanti (2025) menuliskan maraknya persoalan short attention span yang merupakan rendahnya fokus membaca akibat berlebihan dalam menggunakan sosial media atau internet berlebihan dan kurangnya aktivitas fisik. Komunitas baca buku sangat berkontribusi dalam mengatasi short attention span yang melanda masyarakat urban.
Aktivitas komunitas baca buku juga ditopang oleh sebuah fenomena yang disebut perilaku Fear of Missing Out (FoMO) sebagai ketakutan tertinggal dari trend yang sedang populer. Di media sosial khususnya Instagram sangat ramai aktivitas mengenai buku. Toko buku di Yogyakarta mampu beradaptasi dengan tak sekedar menjual buku, namun juga memadukannya dengan kafe yang ditampilkan secara estetik serta aktif dalam media sosial dan mendapatkan perhatian yang begitu besar dari netizen. Akun Instagram buku akik dan warungsastra mencapai 1 juta followers, solusi buku 401 ribu followers, dan shira media 206 ribu followers. Hal ini membawa angin segar bagi komunitas buku di Yogyakarta dalam memasifkan kegiatannya.
Badan Pusat Statistik pada tahun 2025 mencatat Yogyakarta juga memiliki 76 perguruan tinggi dan 1 juta lebih mahasiswa yang dapat menjadi sasaran komunitas buku untuk menampung hasrat baca buku para mahasiswa sebagai kaum intelektual. Harga buku di Indonesia yang bagi mahasiswa secara konvensional terbilang mahal, komunitas buku dapat menjadi alternatif dalam mengakses buku.
Menjamurnya komunitas perbukuan di Kota Yogyakarta menjadi bukti nyata dari bekerjanya solidaritas organik masyarakat perkotaan dalam merespons tantangan literasi modern. Fenomena ini berhasil menjembatani jurang pemisah yang lebar antara rendahnya minat baca nasional secara global dan tingginya hasrat intelektual para mahasiswa yang didukung oleh status sejarah Yogyakarta sebagai kota pendidikan. Kehadiran komunitas-komunitas buku modern seperti Yogyakarta Book Party hingga kolaborasinya dengan kafe-kafe lokal telah berhasil menciptakan sebuah The Third Place (Ruang Ketiga) yang vital. Ruang publik informal ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat melepaskan penat di luar rumah dan kampus, tetapi juga bertransformasi menjadi sebuah agen pemulihan sosial yang efektif dalam mengatasi persoalan short attention span akibat paparan internet yang berlebihan.
Lebih jauh lagi, keberhasilan gerakan literasi berbasis komunitas di Yogyakarta ditopang oleh kecerdasan ekosistem lokal dalam merekayasa tren digital. Melalui adaptasi toko buku independen yang estetik di media sosial, kecenderungan perilaku Fear of Missing Out (FoMO) yang biasanya berdampak negatif, berhasil dikonversi menjadi sebuah gaya hidup pop yang positif dan bernilai edukatif. Pada akhirnya, di tengah mahalnya akses terhadap buku fisik bagi kalangan mahasiswa, komunitas perbukuan hadir sebagai solusi ekonomi alternatif (sharing economy) yang inklusif untuk merawat nalar kritis kaum intelektual. Dengan struktur gerakan yang matang ini, model pengelolaan komunitas literasi di Yogyakarta sangat potensial untuk dijadikan sebagai acuan standardisasi dan referensi nasional bagi wilayah lain demi mendongkrak martabat literasi Indonesia di panggung dunia.
Referensi
Sugiyanto. (2004). Yogyakarta Kota Pendidikan dan Ekonomi Alternatif. Cakrawala Pendidikan. Th. 23, No. 3
Ritzer, George. (2012). Teori Sosiologi Dari Sosiologi Klasik Sampai Perkembangan Terakhir Posrmodern. Yogyakarta, Pustaka Pelajar. H. 145.
Oldenburg, Ray. (1999). The Great Good Place. New York, Marlove & Company. H.20.
Susiyanti, Evi. (2025). Consultative Leadership: Strategiesfor Improving Cognitive-Emotional Wellbeing to Reduce Short Attention Spans in Students. Jurnal Visionary, Vol. 13. No. 2.
jogja.tribunnews.com/pendidikan/1204777/5-komunitas-baca-buku-di-daerah-istimewa-yogyakarta?page=3
komdigi.go.id/berita/sorotan-media/detail/teknologi-masyarakat-indonesia-malas-baca-tapi-cerewet-di-medsos
yogyakarta.bps.go.id/id/statistics-table/3/ZG5GNFRUZHdiRWN3YlRGSGF6QXdaVXRPTVZSQlFUMDkjMyMzNDAw/jumlah-perguruan-tinggi-sup-1--sup---dosen--dan-mahasiswa--negeri-dan-swasta--di-bawah-kementerian-agama-menurut-kabupaten-kota-di-provinsi-di-yogyakarta.html?year=2025