Fenomena Dominasi Perempuan dalam Drama Korea Queen of Tears Karya Jamiati KN
Jurnal yang ditulis oleh Jamiati KN ini menyoroti bagaimana drama Korea (K-Drama)
berperan penting dalam membentuk dan mentransformasi persepsi masyarakat tentang
peran gender kontemporer. Drama Korea (K-Drama) telah menjadi fenomena budaya
populer yang signifikan dalam merepresentasikan isu gender dan peran perempuan.
Penulis mengemukakan bahwa perkembangan teknologi media serta semakin kuatnya
arus Korean Wave (Hallyu) telah mendorong hadirnya representasi gender yang lebih
beragam dan kompleks dalam berbagai judul K-Drama.
Fenomena tersebut terlihat jelas dalam serial Queen of Tears, sebuah drama yang menjadi
sorotan publik Indonesia, dibuktikan dengan grafik tingkat popularitas K-Drama yang
sangat signifikan pada tahun 2024, dengan survei IDN Times menunjukkan 96%
responden lebih memilih menonton K-Drama dibandingkan sinetron lokal, dan 76.6%
menjadi penonton aktif drama Korea, meskipun terdapat peningkatan representasi
perempuan sebagai pemimpin dalam drama Korea, masih terdapat bias gender dan
stereotip yang melekat. Hal ini menciptakan kesenjangan antara citra progresif yang
ditampilkan drama dengan realitas sosial yang dihadapi perempuan.
Dalam Artikel ini Serial drama Queen of Tears dipilih sebagai objek kajian karena
menghadirkan tokoh perempuan yang menempati posisi dominan, khususnya dalam
ranah bisnis dan politik. Suatu bentuk representasi yang tidak selalu terlihat dalam drama
Korea generasi sebelumnya. Melalui pendekatan fenomenologis, artikel ini berupaya
memahami bagaimana penonton memaknai bentuk dominasi perempuan tersebut serta
implikasinya terhadap persepsi mereka mengenai peran dan posisi perempuan dalam
masyarakat modern. Penulis menggunakan pendekatan fenomenologi Alfred Schutz
untuk melihat bagaimana penonton memaknai dominasi perempuan tersebut. Pendekatan
ini menekankan pengalaman subjektif penonton dalam menafsirkan realitas yang mereka
lihat di layar. Dengan menggunakan metode kualitatif, penulis mengumpulkan data
melalui wawancara mendalam, observasi partisipan, hingga Focus Group Discussion
(FGD). Informan berasal dari masyarakat Lhokseumawe yang aktif menonton drama
Korea, berusia 18 hingga 35 tahun, dan memahami isu-isu gender serta feminisme.
Artikel ini menjelaskan bahwa karakter Hong Hae In dipandang sebagai representasi
perempuan modern yang kuat dan mandiri. Ia digambarkan sebagai pemimpin perusahaan
besar, pewaris konglomerat, dan pemilik kekuasaan ekonomi yang cukup besar. Di sisi
lain, sinopsis Queen of Tears menunjukkan dinamika relasi yang menarik antara Hong
Hae In dan suaminya, Baek Hyun-woo, seorang laki-laki sederhana dari desa yang
berhasil menjadi pengacara dan kemudian bekerja sebagai direktur hukum di Queens
Group. Di permukaan, mereka tampak seperti pasangan sempurna dengan kehidupan
serba mewah, namun rumah tangga mereka sebenarnya dingin dan berada di ambang
perceraian setelah tiga tahun menikah. Hyun-woo merasa lelah dan tertekan karena sering
diremehkan oleh keluarga istrinya, sedangkan Hae-in hidup di bawah tekanan besar
sebagai bos perusahaan dan anggota keluarga chaebol yang penuh konflik dan intrik.
Kehidupan mereka berubah ketika Hae-in didiagnosis mengidap penyakit serius di otak
yang dapat merenggut nyawanya dalam waktu singkat. Kabar tersebut membuat rencana
perceraian tertunda dan memaksa mereka kembali banyak menghabiskan waktu bersama,
sehingga perlahan muncul kembali kenangan baik, rasa sayang, dan penyesalan atas sikap
masing-masing. Di saat yang sama, hadir sosok Yoon Eun-sung, pria yang tampak baik
dan seolah ingin membantu, namun diam-diam memiliki kepentingan pribadi dan ikut
memperkeruh konflik dalam keluarga dan perusahaan. Sepanjang cerita, penonton diajak
menyaksikan bagaimana Hyun-woo dan Hae-in menghadapi penyakit, konflik keluarga,
serta permainan kekuasaan, sambil sedikit demi sedikit belajar jujur, saling memahami,
dan menyadari bahwa mereka sebenarnya masih saling mencintai.
Melalui wawancara dengan para informan, penulis menemukan bahwa mayoritas
penonton melihat Hong Hae In sebagai simbol perempuan yang mampu memegang
kendali dan mengambil keputusan strategis tanpa kehilangan sisi kemanusiaannya.
Representasi semacam ini dianggap mencerminkan perubahan paradigma mengenai
perempuan dalam media Korea, dari tokoh yang pasif menjadi tokoh yang aktif
mempengaruhi jalannya cerita. Dari hasil FGD yang dilakukan dalam artikel ini, muncul
empat tema utama yang paling sering dibicarakan penonton, yaitu:
1. Kemandirian Ekonomi
2. Kepemimpinan Perempuan
3. Relasi Kuasa Dalam Pernikahan
4. Stereotip Gender
Keempat tema tersebut menunjukkan bahwa penonton tidak hanya menikmati alur
romantis dalam Queen of Tears, tetapi juga secara aktif memperhatikan bagaimana
kekuasaan, ekonomi, dan relasi gender ditampilkan dalam cerita. Kemandirian ekonomi
dan kepemimpinan perempuan tampak jelas dalam posisi Hong Hae In sebagai pemimpin
perusahaan sekaligus pewaris konglomerat. Namun melalui tema relasi kuasa dalam
pernikahan dan masih hadirnya stereotip gender, penonton juga melihat bahwa karakter
ini tetap dihadapkan pada tuntutan peran sebagai istri, anggota keluarga, dan subjek sosial
yang tidak sepenuhnya diperlakukan setara dengan laki-laki. Hal ini menunjukkan bahwa
dominasi perempuan dalam drama tidak hadir dalam ruang hampa, melainkan terus
dinegosiasikan dalam kerangka nilai-nilai patriarkal yang masih kuat.
Artikel ini juga menarik karena tidak berhenti pada analisis teks drama semata, tetapi
menelusuri bagaimana konteks lokal masyarakat Lhokseumawe mempengaruhi cara
penonton memaknai tokoh Hong Hae In. Penonton perempuan, khususnya, banyak yang
mengidentifikasi diri dengan perjuangan tokoh utama dalam menyeimbangkan pekerjaan
dan kehidupan rumah tangga. Di sisi lain, nilai budaya Aceh yang menjunjung tinggi
peran perempuan dalam keluarga dan norma keagamaan membuat sebagian penonton
memaknai dominasi perempuan dalam drama secara selektif, mereka mengapresiasi
kemandirian dan keberanian tokoh utama, tetapi tetap menilai pentingnya kesesuaian
dengan nilai moral dan adat. Di titik inilah tampak proses negosiasi makna antara nilai-
nilai modern yang dihadirkan K-Drama dan nilai-nilai lokal yang sudah mengakar dalam
kehidupan sehari-hari.
Sebagai sebuah karya ilmiah, artikel Jamiati KN memiliki sejumlah kekuatan. Secara
metodologis, penggunaan wawancara mendalam, observasi partisipan, dan FGD
memberikan gambaran resepsi penonton yang cukup kaya. Pendekatan fenomenologi
Alfred Schutz menggeser fokus kajian dari sekadar “apa yang ditampilkan” menjadi
“bagaimana penonton memaknai” representasi dominasi perempuan tersebut.
Representasi Hong Hae In sebagai perempuan kuat, mandiri, dan berpengaruh secara
ekonomi dibaca bukan hanya sebagai kisah sukses karier, tetapi juga sebagai simbol
perubahan cara pandang terhadap perempuan dalam media populer.
Meski demikian, artikel ini juga menyiratkan beberapa keterbatasan yang penting dicatat
dalam sebuah review. Representasi perempuan dominan dalam Queen of Tears masih
sangat terkait dengan privilese kelas atas sebagai pewaris konglomerat, Hong Hae In
memiliki akses pada kekuasaan dan sumber daya yang tidak dimiliki perempuan dari
kelas sosial lain. Konsekuensinya, model “perempuan berdaya” yang ditawarkan drama
ini belum tentu relevan atau dapat dijangkau oleh sebagian besar perempuan di dunia
nyata. Selain itu, meskipun artikel telah menyinggung bias gender dan stereotip yang
masih muncul, pembahasan kritis mengenai bagaimana stereotip tersebut bekerja dalam
dialog, adegan, maupun struktur cerita masih dapat diperdalam. Secara umum, review ini
menunjukkan bahwa Queen of Tears dapat dibaca bukan hanya sebagai drama romantis,
tetapi juga sebagai cerita yang memuat perdebatan tentang perempuan, kekuasaan, dan
kepemimpinan. Melalui pembacaan yang dilakukan Jamiati KN, pembaca diajak melihat
bahwa gambaran perempuan yang dominan di layar tetap berhadapan dengan batas-batas
kelas sosial, budaya lokal, dan struktur patriarki, sehingga makna “dominasi perempuan”
dalam drama ini tetap kompleks dan perlu terus dikritisi.
(HabibinaMenatri, Mahasiswa Magister Sosiologi)