Menuju Pariwisata Berkelanjutan di Desa Cengkok Kecamatan Ngronggot Kabupaten Nganjuk
Nelis Sa'adah, Magister Sosiologi, FISHUM, UIN Sunan Kalijaga
Bahwa jika pengelolaan suatu wisata dengan managemen yang baik dan fasilitas yang mewadai dapat meningkatkan pengunjung. Padahal pembangunan suatu wilayah sangat berperan dalam menigkatkan aspek perekonomian termasuk di wilayah desa. Desa mempunyai otonomi daerah untuk mengurus dan mengatur sendiri urusan pemerintahan serta kepentingan masyarakat setempat yang sesuai dengan peraturan perundang-undagan. Tujuan dari otonomi ini untuk mendukung pembangunan berkelanjutan di wilayah daerah.
Pembangunan berkelanjutan (Sustainable development) yaitu upaya untuk memperbaiki mutu dalam cara berfikir masyarakat tanpa melampaui ekosistem yang mendukung. Sustainable development juga sebagai upaya negara dalam mendukung perubahan dari aspek ekonomi, sosial, maupun budaya.
Salah satu penunjang pembangunan berkelanjutan (Sustainable development) adanya sektor pariwisata. Pariwisata kini menjadi salah satu program unggulan pemerintah untuk meratakan distribusi ekonomi dan menambah devisa negara hingga ketingkat makro. Dalam meningkatkan pembangunan pada sektor pariwisata desa memiliki peranan penting mulai dari aspek sosial, budaya, dan lingkungan. Beberapa daerah di Indonesia sekarang mulai mengembangkan sektor pariwisata yang berkelanjutan sebagai upaya meningkatkan perekonomian masyarakat dan melesatrikan lingkungan sekitar.(Aeni et al., 2021)
Cengkok merupakan salah satu desa yang terletak di Kecamatan Ngronggot Kabupaten Nganjuk. Awal mulanya taman cengkok ini sebagai lahan pertanian atau persawahan. Kemudian muncul inovasi baru warga setempat seperti elemen masyarakat atau perangkat desa mengadakan musyawarah untuk menjadikan lahan persawahan ini sebagai objek wisata. Dari literatur yang saya baca Wisata Taman Cengkok (WTC) ini awalnya di dirikan sebagai tempat wisata dengan tujuan dapat mendobrak lapangan pekerjaan bagi warga sekitar. Wisata taman cengkok ini menawarkan wisata taman bunga yang indah dan tata letak yang unik. Sekain itu, di taman cengkok ini pengunjung dapat mengambil spot foto yang sudah di sediakan di sekitar taman. Wisata taman cengkok ini juga menawarkan sebagai tempat edukasi bagi anak-anak karena di dalamnya terdapat beberapa macam hewan seperti elang, landak, monyet dan lain sebagainya. WTC ini berupaya untuk meningkatkan penghasilan masyarakat setempat dengan cara evaluasi taman setiap enam bulan sekali. Tujuannya dapat mempertahankan pengunjung yang datang dengan penambahan atau pergantian tema di lokasi taman.
Pengelolaan Desa Wisata Cengkok tidak hanya bergantung pada infrastruktur dan daya tarik wisata saja, tetapi juga adanya keterlibatan aktif masyarakat lokal. Dalam konteks priwisata berkelanjutan, partisipasi masyarakat menjadi elemen panting karena masyarakat bukan hanya sebagai objek pembangunan, melainkan sebagai subjek utama yang menggerakkan roda ekonomi desa. (Mahmudah et al., 2023). Keberadaan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dalam mengelolaan Wisata Taman Cengkok menjadi strategi yang efektif dalam mengintegrasikan kepentingan ekonomi dan sosial. BUMDes berperan sebagai lembaga pengelola yang mampu mengorganisir sumber daya lokal, megelola keuangan, serta memastikan keberlanjutan program wisata. Dengan demikian, keuntungan yang dihasilkan tidak hanya bersifat individual, tetapi juga kolektif bagi masyarakat desa.
Adanya keterlibatan masyarakat dalam kegiatan wisata seperti pengelolaan wahana, penjualan produk lokal dan penyediaan jasa parkir contohnya dapat memberikan efek yang multiplier terhadap ekonomi desa. Hal ini sejalan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan yang menekankan keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, kesejahteraan sosial, dan pelestarian lingkungan. Pengelolaan Desa Wisata Cengkok merupakan bentuk tranformasi pembangunan desa yang mengarah pada konsep pariwisata berkelanjutan. Peruabahan fugsi lahan dari area pertanian menajdi destinasi wisata menunjukkan adanya inovasi yang didorong oleh kebutuhan peningkatan ekonomi masyarakat. Keberhasilan Wisata Taman Cengkok tidak terlepas dari penerapan managemen yang baik, dukungan fasilitas yang memadai, serta keterlibatan aktif masyarakat melalui peran BUMDes.
Oleh karena itu adanya Taman Wisata Cengkok dapat memberikan kontribusi terhadap peningkatan pendapatan masyarakat dan juga dapat memperkuat aspek sosial budaya. Hal ini menunjukkan bahwa pariwisata berkelanjutan dapat menajdi instrument startegis dalam pembangunan desa yang inklunsif dan berdaya asing. Namun, terdapat tantangan yang perlu diperhatikan, seperti keberlanjutan inovasi, pengelolaan dampak lingkungan, serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia. Oleh karena itu, diperlukan strategi pengembangan yang adaptif, kolaboratif, dan berbasis pada potensi lokal agar Desa Cengkok dapat terus berkembang secara berkelanjutan. Dengan demikian, Desa Wisata Cengkok memiliki potensi besar untuk menjadi model pengembangan pariwisata berbasis komunitas yang tidak hanya meningkatkan kesejahteraan masyarakat, tetapi juga menjaga keseimbangan antara aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan.
Referensi
Aeni, I. N., Mahmud, A., Susilowati, N., & Prawitasari, A. B. (2021). Sinergitas Bumdes dalam Manajemen Pengelolaan Desa Wisata Menuju Pariwisata Berkelanjutan. 25(2), 169–174.
Mahmudah, F., Wahyuningtyas, N., & Ruja, I. N. (2023). Peran dan Strategi BUMDES dalam Pengembangan Wisata Taman Cengkok Asri di Kabupaten Nganjuk. 9(1), 45–58.
(https://www.google.com/search?q=otonomi+daerah&oq=otonomi+daerah&gs_lcrp)