Prodi Magister Sosiologi mengdakan Perpisahan dengan Mr Micheal (SES)

Kamis, 08 Oktober 2025 di ruang Multi Media Room, Para dosen Fishum dan voluntir SES mengadakan perpisahan dengan Mr Michel untuk mengakhiri kontrak kerja yang dilakukan oleh Mr Michel, Ia memeberikan beberapa sudut pandang tentang studi yang selama satu bulan ini di tempuh di Uin Sunan Kalijaga.

Pertama beliau menyampiakan ucapan terimakasih kepada para dosen dan mahasiswa karena Ia tidak menyangkan akan banyak berinteraksi dengan mahasiswa. Terkadang Ia tidak memahami apa yang disampaikan, dan terkadang ia harus berusaha menangkap atau memahami maksud mereka. Namun, mereka juga berusaha memahami saya. Hal ini menjadi sebuah tantangan tersendiri bagi Mr. Micheal

Mr Micheal ingin memberikan beberapa komentar mengenai program ini. Menurutnya program ini sangat mengesankan, terutama karena terdiri dari tiga bagian, yaitu perencanaan dan proses perencanaan, bagaimana program tersebut diimplementasikan, serta evaluasi terhadap filosofi program. Selain itu, ada juga program yang berkaitan dengan masyarakat dan mahasiswa. Menurutnya, keseluruhan program ini sangat rinci dan sangat baik. Ia juga terkesan dengan program dan rekomendasi yang diberikan, termasuk pelatihan, orientasi, serta kegiatan yang berkaitan dengan masyarakat dan pusat kegiatan.

Mr Micheal juga terkesan dengan kegiatan Divisi Sosiologi Asia Tenggara, meskipun saya belum sepenuhnya memahami secara tepat apa saja yang dilakukan oleh divisi tersebut. Namun, menurut saya, ini merupakan suatu pemahaman yang sangat baik mengenai latar belakang dan pengalaman historis. Hal lain yang menarik adalah bagaimana program ini mempertimbangkan berbagai pemangku kepentingan, seperti pemerintah, kementerian, kelompok agama, pengungsi, dan berbagai pihak lainnya. Karena kita harus melihat persoalan dari berbagai arah dan perspektif yang berbeda, filosofi program tersebut menjadi cukup kompleks.

Kemudian, Mr Michael menyampaikan terkait gagasan tentang sosiologi refleksif, saya menyukai gagasan tersebut dan menurut saya ini merupakan hal yang sangat positif. Gagasan ini dapat menerangi proses saling memahami di dunia dengan cara yang tidak heterokratis, serta mengintegrasikan perspektif Islam, Indonesia, dan Asia Selatan ke dalam penelitian. Jadi, menurut saya, ini merupakan perspektif yang sangat komunikatif. Gagasan mengenai sosiologi refleksif juga sangat sesuai dengan program penelitian yang menggunakan pendekatan kualitatif.

Mr Michael memberikan beberapa saran Pertama, perlu membuat program pembelajaran wajib bagi mahasiswa yang baru memasuki bidang sosiologi pada awal masa studi magister. Mereka perlu mendapatkan pemahaman dasar mengenai apa itu sosiologi sejak awal program magister. Karena jika tidak, mereka akan kesulitan memahami disiplin ilmu yang kompleks ini.

Kedua, perlu ditingkatkan proporsi mata kuliah yang diajarkan dalam bahasa Inggris. Kemudian dapat disediakan pula kursus bahasa Inggris yang berjalan bersamaan dengan program magister, misalnya English for Sociology atau bahasa Inggris khusus bidang sosiologi. Ini juga akan membantu para dosen ketika mereka harus mengajar beberapa mata kuliah dalam bahasa Inggris.

Ketiga, saya melihat Anda sudah memiliki pendekatan yang menarik, yaitu melakukan tracer study pada awal program magister. Keempat, meskipun Anda memiliki banyak orang dari berbagai wilayah Indonesia di kampus ini, saya merasa kampus ini juga seperti “toko yang tertutup” (closed shop). Ada banyak orang Indonesia di sini, tetapi di mana orang-orang dari luar kampus? Misalnya, orang-orang yang secara langsung terdampak oleh berbagai persoalan sosial, atau orang-orang yang terlibat dalam gerakan anak muda Indonesia melawan ketidakadilan dan sebagainya. Kelima, jika saya harus meningkatkan tingkat internasionalisasi, saya akan membuat seri kuliah dengan pembicara internasional dari berbagai belahan dunia.

Menaggapi beberapa saran yang di berikan Mr Michael Prof Norma menyampaikan tiga poin. Poin pertma Berkaitan dengan kelas bahasa Inggris, beliau setuju bahwa kita perlu menyediakan penggunaan bahasa non Indonesia, khususnya bahasa Inggris, dalam perkuliahan. Mungkin semester depan kami akan mulai dengan dua atau tiga topik yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar. Poin kedua Kemudian, mengenai diskusi antara dosen dan mahasiswa, ya, sebenarnya hal itu pernah dilakukan di masa lalu. Kami memiliki banyak forum atau kesempatan ketika dosen duduk bersama mahasiswa, kemudian berdiskusi dan membicarakan berbagai hal.

Kemudian, poin ketiga berkaitan dengan apa yang Anda sebut sebagai akar historis pemberdayaan, mungkin saya memiliki pandangan yang sedikit berbeda mengenai hal ini. Kami berpandangan bahwa kemunculan Indonesia sebagai sebuah bangsa bukan semata-mata sebuah perjuangan. Ini bukan sebuah revolusi. Ini merupakan upaya untuk merebut kembali identitas kita yang sebenarnya. Anda tahu bahwa para founding fathers atau para pendiri republik ini memiliki narasi bahwa perjuangan melawan kolonialisme bukan berarti mengambil sesuatu dari mereka. Melainkan mengembalikan sesuatu yang memang menjadi milik kita sendiri.

Jadi, narasi yang dimiliki para mahasiswa bukanlah narasi mengenai semacam revolusi sosial awal atau sesuatu yang semacam itu, karena versi sejarah tersebut memang yang selama ini diajarkan kepada kami, mungkin kita perlu mulai mempelajari kembali hal tersebut untuk memasukkan perspektif tersebut ke dalam diskusi mengenai pemberdayaan. Dan yang terakhir, terkait saran Anda agar kami melibatkan orang-orang dari luar kampus. Orang-orang yang memiliki pengalaman nyata, misalnya dalam menghadapi kecanduan, akan menjadi pengalaman yang sangat baik dalam pembelajaran mengenai pelayanan sosial. Dan tentu saja, kami akan menerapkan hal tersebut di fasilitas kami (Nelis Sa'adah)