Prodi Magister Sosiologi FISHUM UIN Sunan Kalijaga Jajaki Kerja Sama dengan The Asia Foundation

Program Studi Magister Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora (FISHUM) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta melaksanakan kunjungan kerja ke kantor The Asia Foundation (TAF) Jakarta pada Kamis (9/7). Rombongan dipimpin oleh Ketua Program Studi Magister Sosiologi, Ahmad Norma Permata, dengan Wakil Dekan I Bidang Akademik dan Kerjasama FISHUM, Ambar Sari Dewi, sebagai pendamping dari fakultas. Pertemuan ini menjadi langkah awal yang strategis bagi kedua institusi untuk merajut kerja sama di bidang penguatan demokrasi dan pemberdayaan masyarakat sipil.

Dalam sambutannya, Program Director Democracy and Governance TAF, Mochamad Mustafa, menyampaikan bahwa saat ini pihaknya memang tengah membuka kembali kiblat kerja sama dengan perguruan tinggi. Menurutnya, kampus memiliki peran vital untuk memastikan jalannya negara tetap terkontrol dan berjalan dengan rasional. "Program Partisipasi TAF berupaya memperkuat masyarakat sipil. Kontrol dan pengingat harus datang dari pemikiran akademis yang rasional. Itu bisa tercapai jika elemen civil society bergerak bersama, tidak terpisah dalam kelompok-kelompok kecil yang saling melemahkan," ujar Mustafa. Ia menambahkan bahwa banyak program bisa berawal dari dukungan terhadap narasumber yang kemudian berkembang menjadi kerja sama yang lebih luas.

Senada dengan Mustafa, Program Officer Democracy and Governance, Husni Mubarok, menegaskan bahwa pemaknaan civil society selama ini perlu diperluas. "Selama ini masyarakat awam mengira civil society itu hanya NGO. Padahal, kampus adalah bagian yang tidak terpisahkan dari civil society itu sendiri," tegas Husni. Ia menilai kapasitas akademik dan nalar kritis sivitas akademika merupakan modal besar dalam menciptakan ruang diskursus yang sehat bagi kebangsaan.

Pertemuan tersebut juga memperluas pembahasan pada redefinisi ukuran dampak sosial (social impact) di era kontemporer. Mochamad Mustafa menyoroti bahwa tolok ukur keberhasilan gerakan sosial saat ini perlu dikaji ulang. "Pada zaman dahulu, dampak kerap diukur dari seberapa banyak orang yang mampu digerakkan untuk berkumpul, berdemonstrasi, atau bahkan membuat kerusuhan. Namun, ukuran itu sudah tidak lagi relevan. Kini, dampak sejati justru terletak pada seberapa banyak individu atau komunitas yang dapat kita pengaruhi untuk melakukan perubahan nyata di lingkungan lokal mereka masing-masing," paparnya.

Lebih lanjut, disinggung pula tantangan derasnya arus informasi atau tsunami informasi yang menghilangkan batas-batas spasial dan tematik. Kondisi ini membuat masyarakat awam terpapar dan terlena untuk terus membahas isu-isu nasional yang serba cepat, sehingga kerap melupakan urgensi untuk mendiskusikan dan menyelesaikan persoalan-persoalan lokal di tempat tinggal mereka sendiri. Karena itu, kampus dipandang memiliki peran strategis untuk mengajak masyarakat agar tidak kehilangan akar dan tetap peka terhadap realitas sosial terdekatnya.

Rombongan Program Studi Magister Sosiologi FISHUM menyambut baik peluang ini. Ambar Sari Dewi menyatakan kesiapan kampus untuk terlibat aktif dalam program-program yang ditawarkan, terutama di bidang edukasi kewargaan dan penelitian sosial. "Kunjungan ini menjadi jembatan bagi dosen dan mahasiswa untuk mengimplementasikan hasil riset secara langsung bagi masyarakat," tuturnya.

Kehadiran Ahmad Norma Permata turut mewarnai pertemuan tersebut. Menariknya, bagi Norma—sapaan akrabnya—kunjungan kali ini terasa istimewa. Ia bukanlah orang baru di lembaga tersebut; pada tahun 2004, ia pernah mengemban amanat sebagai Program Officer di TAF. Pengalaman lamanya itu kini menjadi modal berharga untuk menjembatani riset-riset kampus dengan kebutuhan penguatan demokrasi di akar rumput. Norma berharap kolaborasi ini dapat menghubungkan dunia akademik dengan isu-isu kebangsaan yang lebih konkret.

Pertemuan tersebut berlangsung sangat produktif. Selain saling bertukar gagasan, kedua belah pihak juga secara konkret mendiskusikan berbagai bentuk dan peluang kerja sama yang bisa serta akan dilakukan ke depan, mencakup ranah riset kolaboratif, penguatan partisipasi publik, hingga program-program pemberdayaan masyarakat sipil yang melibatkan dosen dan mahasiswa.

Meski masih sebatas penjajakan awal, kedua institusi sepakat untuk terus menjalin komunikasi guna mematangkan rencana kerja sama strategis tersebut. (Ahmad Norma Permata)