Kebangkitan Ultra-Kanan di Jerman: Agama, Identitas, Psikologi Radikalisasi, dan Politik Media Digital

Selasa, 29 September 2026 di Ruang Teatrikal Lt.4 Fakultas Kedokteran UIN Sunan Kalijaga,Mahasiswa Magister Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora sedang melangsungkan kegiatan Studium General dengan narasumber yang sangat menarik Dr. Michael Humbrecht dari Jerman dan Prof.Dr. Rama Kertamukti,M.Sn dari Prodi Media dan Komunikasi.

Kagiatan Studium General ini dibukaoleh Waklil Dekan 1, Ibu Ambar Sari Dewi, Ph.D dan dihadiri oleh Kaprodi Magister Sosiologi, Dr.Phil. Ahmad Norma Permata; Kaprodi Media dan Komunikasi, Dr. Fatma Dian Pratiwi,M.Si dan Kaprodi Magister Psikologi, Dr. Retno Pandanarum. S.Psi, M.Psi.

Dalam penyampaiannya. Dr. Michel Humbrecht menyampaikan bahwa Fenomena ini merupakan hasil dari perkembangan masyarakat digital. Artinya, digitalisasi dan media sosial telah menciptakan kondisi di mana kecenderungan untuk marah dan tersinggung semakin dominan dibandingkan objektivitas. Dan internet menjadi bagian dari kehidupan bagaimana berbagai cerita dan informasi beredar di internet sehingga benar-benar menjadi ancaman bagi masyarakat.

Beliau mengatakan bahwa media sosial memang merupakan mesin atau instrumen komunikasi. Tetapi media sosial juga merupakan mesin untuk membentuk identitas dan imitasi. Orang-orang di Jerman dan Eropa menjadi semakin mudah marah dan agresif. Mungkin hal ini tidak sama dengan apa yang terjadi di Indonesia. Ada banyak mekanisme lain dalam penggunaan media sosial di masyarakat modern. Kita memiliki para ahli di sini, dan kita akan mempelajarinya dari berbagai perspektif.

Lalu, apa yang bisa menjadi solusi terhadap fragmentasi, meningkatnya iritasi, dan perkembangan polarisasi ini? Salah satu solusinya mungkin berkaitan dengan stabilitas. Kunci untuk masa depan bisa berupa visi tentang masyarakat redaksional (redactional society). Masyarakat redaksional adalah masyarakat di mana setiap orang memiliki tanggung jawab editorial, yaitu bertanggung jawab atas pesan yang mereka kirimkan, teruskan, atau pilih untuk tidak teruskan. Jadi, masyarakat redaksional dan anggotanya seperti para jurnalis pada masa lalu yang bekerja sebagai gatekeeper. Mereka menentukan secara rasional apakah suatu informasi layak diteruskan kepada khalayak atau orang lain atau tidak, misalnya karena informasi tersebut mungkin tidak benar.

Dalam masyarakat digital, setiap orang adalah penyiar (broadcaster). Karena itu, setiap orang juga harus mempelajari kompetensi dasar jurnalistik, apakah informasi tersebut benar, dan apakah secara etis informasi tersebut layak untuk diteruskan atau tidak. Artinya, setiap anggota masyarakat harus memiliki kemampuan dasar dalam memeriksa fakta (fact-checking) dan juga mengkritisi sumber informasi (source criticism). Bagian kebangkitan yang dimaksud di era sekarang ini adalah bahwa ada tokoh-tokoh, mungkin figur-figur yang berusaha menghidupkan nilai-nilai konservatif. Salah satu penyebabnya itu akhirnya pandangan itu bisa mulai meluas karena adanya media.

Yang tadi disampaikan oleh Pak Michael bahwa sosial media ini adalah semacam mesin radikalisasi bagi gerakan-gerakan ekstremis, baik itu ya berasal dari sentimen religius ataupun gerakan-gerakan yang sifatnya politik. dan itu mengganggu orang-orang di sana yang ingin sebetulnya defending democracy, ini menjadi satu kekhawatiran tersendiri di sana. dan jadi memang tadi beliau juga sempat menyampaikan bahwa media sosial ini membuat orang-orang di sana menjadi wild, cerai, agresif, menjadi liar dan sangat agresif.

Pak Michael juga sempat berdiskusi sedikit tentang kebenaran. Jadi kebenaran di era media digital ini seperti apa sih sekarang? Apakah kita bisa hanya memiliki satu kebenaran, atau bisa kebenaran itu beragam versinya? dan ketika kebenaran itu beragam versi, bagaimana kebenaran yang bisa dipegang? Pak Michael, menyampaikan bahwa penting untuk kita memiliki satu pemahaman tentang kebenaran fungsinya supaya kita tidak terjebak dalam apa yang disebut Pak Michael tadi sebagai relativisme. Tapi apa yang perlu dipegang di sini adalah etics untuk mengukur atau menilai kebenaran mana yang bisa dipegang di era post-truth ini.

Diskusi yang disampaikan Pak Michael di tutup dengan bagaimana caranya kita supaya tetap bisa survive? solusi supaya tidak terjebak dalam ekonomi digital media yang disatu sisi sangat menguntungkan ini Pak Michael menyampaikan satu konsep reductional society, di mana kita semacam menjadi gatekeeper bagi pesan-pesan yang kita terima, perlunya bagi kita yang tidak hanya teman-teman dari komunikasi, sosiologi, juga psikologi ternyata perlu untuk mempelajari basic journalism artinya dalam menjadi seorang gatekeeper, menjaga atau berpikir informasi seperti apa yang bisa saya teruskan ke orang lain. Apakah cukup berhenti di kita atau bisa kita sampaikan ke orang lain? Itu yang namanya fungsi gatekeeper. Kemudian juga solusi yang lain yaitu saling mendengarkan. Kita juga jangan hanya mengandalkan media digital, tapi kita juga perlu membangun diskusi-diskusi yang konstruktif, diskusi secara langsung tetapi hal ini cukup sedikit sulit karena zaman sekarang diskusi secara langsunung mulai tergerus karena adanya grup WA.

Sementara, Dr. Ramakertamukti menambahkan bahwa masyararakat digital saat ini sudah bergerak pada algoritma yang mempengaruhi kehidupannya sehar-hari sehingga sudah menjauhkan dirinya pada hakikat kemanusiaanya. Hal yang perlu ditambahkan yaitu menjagaetika sehingga dalam era digital ini tetap terjaga humanitasnya.

Dapat kita simpulkan bahwa tantangan masyarakat digital bukan hanya banyaknya informasi, tetapi bagaimana masyarakat menentukan informasi yang dapat dipercaya. Karena itu, diperlukan pemahaman bersama tentang kebenaran, etika, literasi digital, kemampuan memeriksa fakta, serta budaya dialog dan saling mendengarkan (Nelis Sa'adah)